Rabu, 28 Juni 2017

Bookslife Dorong Penulis Berkarya Lewat Platform Penerbitan Buku Digital

Sebagai orang yang akrab di industri penerbitan buku, Ardianto Agung dan Dewi Fita merasakan kegelisahan pada eksistensi buku fisik dan elemen-elemen pendukungnya. Ini terlihat dari berkurangnya jumlah toko dan display buku. Kebanyakan toko dan display ini hanya terpusat di kota besar.

Terapkan model penjualan buku per bagian

Bookslife | Screenshot - Home
Selain itu, penulis juga ternyata sulit untuk menerbitkan bukunya di penerbit besar. Di sisi lain, banyak pembaca yang enggan membeli buku karena harga yang cukup mahal.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Ardianto dan Dewi yang sebelumnya telah memiliki Penerbit Rak Buku, kemudian memutuskan untuk mendirikan Bookslife.
Dirancang pada awal 2016, situs Bookslife resmi meluncur pada 20 Mei 2017. Startup ini didirikan agar dapat menjadi alternatif bagi para penulis untuk menerbitkan karyanya.
Bookslife adalah platform penerbitan digital, yang memungkinkan pembaca untuk membeli e-book dalam beberapa bagian. Startup ini membantu para penulis dengan memfasilitasi proses pengeditan, pembuatan layout, hingga pembuatan desain cover.
“Saat ini platform digital yang ada sebagian besar hanya berfungsi sebagai media bagi para penulis tanpa menyediakan edukasi tersebut,” ujar Ardianto.
Agar pembaca memberi karya para penulis, Bookslife menjual buku-buku tersebut dalam bentuk part atau bagian.
Bookslife | Screenshot - Book Part
Dengan begitu, harga untuk membeli buku bisa lebih terjangkau. Setiap bagian memiliki jumlah halaman tertentu, dan ditawarkan dengan harga Rp5.000 untuk satu bagian. Cara serupa juga diterapkan oleh platform e-book asal Kanada, Wattpad.
Menurut Ardianto, sejauh ini sudah ada sekitar seratus penulis yang tergabung dalam platform Bookslife. Sejak pertama kali diluncurkan, mereka telah memfasilitasi lebih dari tiga puluh transaksi.
Untuk setiap buku yang terjual, penulis mendapatkan royalti sebesar empat puluh persen, sementara Bookslife mendapatkan enam puluh persen dari keuntungan tersebut.
Sebagai perbandingan, jika melalui penerbit yang sudah cukup besar, penulis biasanya mendapatkan royalti sekitar sepuluh persen dari harga cetak buku. Ini berlaku untuk buku fisik. Sementara itu, jika diterbitkan secara online, penulis mendapatkan royalti sekitar lima belas hingga lima puluh persen dari harga jual buku.

Tantangan pembayaran hingga edukasi

Sumber gambar: Stocksnap
Sumber gambar: Stocksnap
Bekerja sama payment gateway adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bookslife. Oleh karena itu, startup ini menciptakan Bookslife Wallet sebagai salah satu alternatif pembayaran.
“Karena harga produk yang begitu murah, sehingga tidak semua payment gateway bisa mengakomodasi hal ini. Kami mengatasinya dengan membuat wallet sendiri,” cerita Ardianto.
Ia menargetkan untuk meluncurkan aplikasi mobile Bookslife dalam dua bulan ke depan. Dengan begitu, e-book yang sudah dibeli bisa diakses dengan lebih mudah, payment gateway pun dapat ditambah untuk memudahkan pembayaran.
Masalah terbesar kedua yang dihadapi Bookslife, menurut Ardianto, adalah mengedukasi para pembaca untuk membayar e-book yang mereka inginkan.
“Banyaknya platform menulis digital gratis membuat pembaca memilih produk tersebut. Tapi, kami optimistis bahwa mereka akan mau membayar selama konten yang ditawarkan memang baik dan mereka sukai. Karena itu, di Bookslife ada serangkaian proses untuk membuat kualitas produk menjadi lebih baik,” jelasnya.
Untuk mengedukasi pembaca, Bookslife akan bekerja sama dengan komunitas penulisan. Ardianto berkata, “kami juga akan mengadakan workshop penulisan untuk mengakomodasi lebih banyak penulis.”

Sebelum Bookslife hadir, startup Nulisbuku juga memungkinkan kamu untuk mempublikasikan karyamu. Namun, model bisnis Nulisbuku adalah self-publishing. Dengan model ini, penulis juga bertanggung jawab untuk mendesain cover, mengatur tata letak (layout), dan mengedit secara mandiri.
Klien VOPB:
(Diedit oleh Septa Mellina; Sumber gambar: Pexels)
sumber