Senin, 19 Desember 2016

Anthony Tan: cucu supir taksi yang menciptakan aplikasi booking taksi terbesar di Asia Tenggara



0COMMENTS
Anthony Tan: cucu supir taksi yang menciptakan aplikasi booking taksi terbesar di Asia Tenggara
GrabTaxi dari Malaysia adalah pahlawan startup dari Asia Tenggara. Setiap detiknya, tiga booking dilakukan di dalam platform ini.
Jutaan orang menggunakannya. Dan GrabTaxi telah mendapatkan pendanaan sebesar USD 90 juta (Rp 1 triliun) dalam jangka waktu satu tahun – salah satu ronde pendanaan terbesar yang diterima oleh sebuah startup di Asia Tenggara. Ini adalah sebuah fakta. Namun, prosesnya merupakan cerita yang sangat manusiawi.
Anthony Tan, co-founder dan CEO GrabTaxi, masih mengingat dengan jelas bagaimana ia merayu para armada taksi agar tertarik menggunakan aplikasi mereka. Anthony yang merupakan seorang lulusan Harvard dengan orang tua yang kaya terlihat seperti alien. Supir yang ia ajak bicara tampak sangat tidak tertarik dengan konsep yang ia tawarkan. Pembicaraan tidak berlanjut ke arah yang benar – hingga Anthony berbicara mengenai kakeknya yang juga merupakan seorang supir taxi. Hal itu langsung membuat perbincangan bergerak ke arah yang lebih baik, dan Anthony langsung mengendarai taksi supir tersebut seharian untuk mencari konsumen dan juga melihat kondisi dari sudut pandang seorang supir taksi.
Salah satu teman terbaik Anthony-lah yang menanamkan benih di kepala Anthony mengenai konsep GrabTaxi. “Ia datang ke rumah saya dan ketika liburan musim dingin dari sekolah bisnis. Ia menggunakan taksi, ditipu supir taksi, dan marah-marah. Ia mengeluh kepada saya dan bertanya, ‘mengapa kamu tidak melakukan sesuatu terhadap industri ini?’ Hal terseut seketika memicu saya untuk bertindak,” Kata Anthony kepada Tech in Asia di atas panggung konferensi Startup Asia Jakarta 2014 hari ini.
Dahulu, kakek Anthony, yang juga merupakan anak seorang supir taksi membuat sebuah kerajaan otomotif dari nol – Tan Chong Motor, produsen dan distributor lokal Nissan di Malaysia. “Beliau hanya mampu berbicara bahasa Hokkien. Ia tidak mempunyai teman, tidak ada dukungan keluarga, namun ia mampu menghasilkan perusahaan yang hebat. Jadi apa alasan saya?”
Menurut Anthony, kemampuan untuk mengerti nuansa regional Asia Tenggara, menanggapi pasar tersebut, dan memasukkan pembelajaran tersebut ke dalam perusahaan adalah rahasia kesuksesan GrabTaxi. “Kami mengerti kebutuhan supir taksi dalam hal pemasukkan harian. Kami mengerti bahwa banyak orang yang menggunakan uang tunai. Kami sangat menghormati budaya lokal di tempat kami beroperasi.”
Sebagai contoh, di Filipina, ada beberapa aksen berbeda tergantung kota. Jika Anda menelepon customer service di kota-kota ini, mereka akan berbicara kepada Anda menggunakan aksen tersebut. “Menghargai nuansa perbedaan ini dan membangun sebuah produk yang cocok untuk mereka merupakan strategi yang cukup berhasil bagi kami.”

sumber